Sabtu, 25 Mei 2013

FUNGSI AGAMA DALAM KEHIDUPAN MANUSIA



BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Dalam kehidupan manusia, agama merupakan hal yang terpenting untuk di anut oleh setiap individu. Karena agama sebagai pedoman atau petunjuk atau pegangan dalam membimbing, mengarahkan dan melaksanakan kehidupannya agar selalu berada di jalan yang benar. Agama bukan sekedar identitas semata, tetapi harus benar-benar difungsikan dalam kehidupan sehari-hari.
Agama diturunkan oleh Allah sesungguhnya untuk kebaikan umat manusia. Agar manusia berada dalam jalan yang benar. Agama mampu sebagai pagar pembatas agar tidak jatuh serta terjerumus ke dalam cara-cara hidup yang buruk serta negatif. Berikut ini akan diuraikan hal-hal yang terkait dengan fungsi agama dalam kehidupan manusia.  

1.2 Tujuan
1.      Menjelaskan alasan-alasan mengapa manusia perlu beragama
2.      Menjelaskan fungsi agama bagi manusia
3.      Menjelaskan indikator-indikator orang yang beragama








BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Alasan-alasan Manusia Perlu Beragama
Manusia sebagai makhluk Allah memiliki banyak kelebihan dibanding dengan makhluk yang yang lain, tetapi dibalik kelebihan yang banyak itu, manusia  juga tidak luput dari kekurangan, kelemahan dan kemampuan yang terbatas. Manusia terbatas pada alam sekitarnya, warisan keturunan dan latar belakang kebudayannya/hidupnya, sehingga menyebabkan adanya perbedaan pandangan dalam menghadapi suatu masalah, bahkan seringkali bertentangan antara satu dengan yang lainnya. Pandangan yang berbeda tersebut tidak akan dapat menimbulkan keyakinan atas kebenaran, tetapi malah diliputi oleh keragu-raguan, sehingga manusia dinilai gagal dalam menentukan kebenaran secara mutlak, ia tidak sanggup menentukan kebaikan dan keburukan, ia tidak dapat menentukan nilai-nilai semua hal yang demikian itu dalam bidang ilmu pengetahuan manusia. Untuk mengatasi dan memberikan solusi dari kegagalan manusia maka diperlukan agama untuk membantu dan memberikan pencerahan spiritual pada dirinya.
Seperti yang sering kita temui di rumah sakit, saat sang dokter ditanya oleh pasiennya
“ apakah penyakit saya bisa sembuh,dok?”
Sang dokter akan menjawab “ saya hanya berikhtiar mengobati tetapi Allah-lah yang menyembuhkan .”
Jawaban demikian lah yang membuktikan bahwa sehebat-hebatnya manusia tetap Allah yang menentukan. Keterbatasan inilah yang dapat ,menyadarkan pada manusia bahwa Allah lah yang menentukan, kita hanya bisa berusaha dan berdo’a. Menyerahkan kepada Allah atas segala hal yang telah dilakukan  (tawakkal). Jika Allah telah menghendaki maka tak seorangpun dapat menolak. Hal inilah yang menunjukkan bahwa Allah yang Maha Kuasa atas segala sesuatu.
     Manusia sangat membutuhkan agama untuk membantu dirinya dalam menghadapi problema hidup yang kadang tidak dapat dipahami. Seperti : tidak mampu mengetahui alam metafisika, alam akhirat yang merupakan alam gaib, dan berada di luar jangkauan  akal manusia. Disinilah manusia harus percaya bahwa ada Zat yang lebih unggul dari dirinya,yang maha segala-galanya. Dan Di sinilah letak kebutuhan manusia untuk mendapat bimbingan agama, sehingga mampu mengatasi segala persoalan hidupnya dengan baik dan menyakinkan.
Dalam menghadapi problema hidup, agama mengajarkan kita untuk menyerahkan semuanya pada Allah. Tetapi kita juga harus bertindak yang baik seperti : beramal, mendekatkan diri pada Allah dan meninggalkan semua larangan-Nya.
Kadang agama dipakai sebagai batu loncatan semata, diingat saat sedih,miskin,susah sedangkan saat  berada di kehidupan yang enak,kaya,sukses kadang kita lupa dengan agama. Atau kita sering meninggalkan kewajiban agama karena alasan kesibukan,kemalasan,kepentingan dan lain sebagainya. Padahal disaat itulah allah menguji keimanan dan ketaatan kita.
Apalagi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi semakin pesat sehingga banyak menimbulkan kecemasan dan ancaman keselamatan bagi umat manusia. Berbagai konflik yang dahsyat terjadi diberbagai belahan dunia, ini merupakan dampak negatif dari kemajuan ilmu pengetahuan dan tehnologi itu. . Di sinilah perlunya agama, karena hanya agama-lah   yang dapat mencegah agar ilmu dan tekhnologi tersebut tidak berubah menjadi senjata makan tuan. Agamalah yang mampu menjinakkan hati manusia  yang salah, untuk berbuat baik kepada diri sendiri dan kepada orang lain.





2.2 Fungsi Agama bagi Manusia
Banyak para ahli yang memberikan penjelasan tentang fungsi agama bagi manusia,diantaranya yaitu :
·        Zakiah daradjat berpendapat bahwa agama sebagai sumber system nilai merupakan petunjuk/pedoman dan pendorong bagi manusia untuk memecahkan persoalan bagi hidupnya(Daradjat,1984:54).
Sebagai petunjuk/pedoman, agama memberikan isyarat kepada manusia agar hidup yang dijalani tidak salah dan keluar dari kebenaran.
Sebagai pendorong,agama menjadi motivator yang paling kuat dalam meneguhkan keyakinan manusia.Al-Qur’an mengajarkan barang siapa bersungguh sungguh memohon kepada Allah,allah pasti mengabulkan (QS.al-Baqarah:186).Oleh karena itu jangan sampai kehilangan motivasi agama dalam menjalani aktivitas.Allah berfirman barang siapa yang bertaqwa kepada Allah maka Allah akan member solusi atas masalah yang dihadapinya(QS.Al-Thalaq:2)
·        Menurut Thomas F.O’dea dalam Ahmad Saebani (2007),agam berfungsi menyediakan motivasi positif bagi pemeluknya , serta sebagai pelipur lara dan rekonsilasi.
Sebagai motivasi positif dapat digambarkan bahwa ketika seseorang menginginkan sesuatu yang diharapkan  tercapai, agama memberikan dorongan supaya orang itu memiliki tekad bulat atau sikap optimis sebagai modal utama suatu keberhasilan seraya berjuang keras dan memohon pertolongan kepada Allah.
Sebagai pelipur lara ,ketika seseorang mengalami kenyataan hidup yang sangat pedih, maka agama memberikan kabar yang gembira.
Sebagai rekonsiliasi,ketika seseorang baik secara pribadi maupun kelompok sedang dihadapkan pada suatu kebencian kepada sesame bahkan pertikaian yang pada akhirnya melahirkan permusuhan, maka agama menyeru kepada kita bahwa kita adalah bersaudara, sama-sama sebagai hamba Allah.
·        Menurut teori Ibnu Khaldun (dalam Saebani,2007) agama berfungsi sebagai pendorong kuat bagi terbentuknya perilaku  kolektif dalam suatu kelompok karena agama dipandang sebagai slah satu bagian dari social budaya. Ketika seseorang berada dalam komunitas orang yang berbuat baik , maka secara langsung atau tidak langsung akan terdorong untuk melakukan hal serupa.
·        Menurut Endang Saifudin Anshari,agama berfungsi sebagai pustaka kebenaran .
Sebagai pustaka kebenaran agam diibaratkan sebagai gedung yang besar perpustakaan kebenaran.Siapa saja dapat memasuki melalui pintunya, pintu agama adalah kunci, dan kuncinya adalah iman(Anshari ,1984:142).Dalam hal ini agama memberikan kebenaran yang mutlak,memberikan kepastian, memberikan referensi bagi kehidupan manusia.
·        H.M.Rasjidi menjelaskan fingsi agama sebagai berikut:
a)     Agama sebagai system kepercayaan,agama akan memberikan pegangan yang lebih kokoh tentang masa depan yang lebih pasti bagi manusia.
b)     Agama sebagai system ibadah, agama akan member petunjuk bagi manusia tentang tata cara berkomunikasi dengan Tuhan menurut jalan yang dikehendakiNya, berkomunikasi dalam rangka mengabdi kepadaNya,mendekatkan diri kepadaNya.
c)     Agama sebagai system kemasyarakatan,agama akan  member pedoman dasar dan ketentuan pokok yang harus dipegangi oleh manusia dalam mengatur hubunganya dengan sesame,baik sebagai individu maupun kelompok, yang akhirnya tercipta aturan-aturan yang harus disepakati, yang diantaranya meliputi hak dan kewajiban (Rasjidi dkk,1997:138-139).
Agama perlu difungsikan  untuk memberikan pencerahan spiritual bagi kita agar kita semakin dekat dengan Allah .


2.3 Indikator Manusia yang Beragama
Berikut ini akan dijelaskan beberapa indikator  manusia yang beragama :
A.    Keteguhan Iman
Menurut Haidar, dkk ( Pendidikan Agama Islam, 2011:12) Gambaran keteguhan iman seseorang dapat dilihat dari sikap dan perilakunya.
Orang yang memiliki keteguhan iman akan mampu membentengi dirinya dari perilaku-perilaku tercela yang mungkin bisa mengorbankan keimanannya. Selain itu mereka akan berperilaku positif.
Seseorang yang memiliki keteguhan iman akan selalu berupaya bahwa kehidupan yang ia jalani tidak boleh bertentangan dengan ajaran agama. Iman harus didedikasikan untuk pengabdian kepada Allah.
Banyak orang yang mengorbankan keimanannya karena hal yang bersifat dunia.Orang yang merasakan kemuliaan dan ketinggian hanya karena berbagai kebanggaan duniawi adalah orang-orang yang tertipu.
 “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, Yaitu : wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS: Ali Imran (3) : 14).
Syetan sangat cerdik menipu manusia dengan berbagai kebanggaan duniawi. Syetan menyuruh manusia agar jangan peduli dengan kebanggaan iman sebab itu adalah perkara yang terlalu abstrak dan tidak dapat dilihat secara kasat mata. Sementara itu kebanggaan duniawi bersifat kongkrit dan mudah terukur. Sehingga muncullah gelombang manusia yang masuk ke dalam perangkap syetan. Sehingga jabatan, ilmu dan harta tidak ditemani dan dikontrol secara langsung oleh spirit Iman.
 “Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).” (QS: Al Araf (7) : 17).
Sayyid Qutb menjelaskan kebanggaan iman berpedoman kepada sebuah ayat Al-Qur’an yang berbunyi sebagai berikut:
 “Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS: Ali Imran 139)2.Petunjuk Jalan – Penerbit Media Dakwah – halaman 272
Janji Allah Subhanahu Wata’ala kepada orang beriman :
 “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan aku. dan Barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, Maka mereka Itulah orang-orang yang fasik.” (QS. An Nur (24) : 55).
Iman seseorang kadang-kadang bertambah dan kadang-kadang berkurang. Ini dipengaruhi oleh faktor eksternal dan internal. Faktor internal ialah faktor dimana kondisi jiwa seseorang kosong dengan nilai-nilai agama. Sedangkan faktor eksternal adalah faktor di luar jiwa seseorang, misalnya himpitan ekonomi.

Agar iman kita senantiasa terjaga, berikut ini Cara Menjaga Keteguhan Iman menurut Abu Vhieran Al-Mughirah yang bersumber pada Al-Quran dan Al Hadits :

1.      Akrab dengan Al Qur’an
Al Qur’an merupakan petunjuk utama untuk mencapai tsabat (keteguhan iman). Al Qur’an merupakan penghubung yang amat kokoh antara hamba dengan Rabbnya.
Allah Azza wa Jalla telah menjelaskan bahwa diturunkannya Al Qur’an secara berangsur-angsur adalah untuk meneguhkan hati para hambaNya, sebagaimana firman Allah tatkala mem-bantah tuduhan kaum kuffar, “Orang-orang kafir berkata: Mengapa Al Qur’an itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja? Demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami mem-bacakannya secara tartil.”
(Al Furqan : 32)
Diantara alasan mengapa Al Qur’an sebagai sumber utama untuk mencapai tsabat, karena Al Qur’an menanamkan keimanan dan mensucikan jiwa seseorang, diturunkan untuk menen-teramkan hati manusia dan sebagai benteng bagi orang mukmin dalam menghadapi hempasan fitnah.
2.      Iltizam dengan Syari’at Islam
Allah berfirman: “Dan sesungguhnya kalau mereka melaksanakan nasehat yang diberikan kepada mereka, tentulah hal yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih meneguhkan (hati mereka di atas kebenaran).” (An Nisa : 66)
Jelas sekali, tidak mungkin kita mengharapkan orang-orang yang malas dan tidak melakukan amal shalih dapat memiliki keteguhan iman. Allah hanya akan menunjukkan kepada orang yang beriman dan mengamalkannya, jalan yang lurus.
Oleh karena itu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan para shahabat senantiasa melakukan amal shalih dan menjaganya secara terus-menerus.
“Barangsiapa memelihara shalat dua belas raka’at (sunnat rawatib), niscaya ia dijamin masuk surga.” (AtTirmidzi 2/273)
3.      Mempelajari Kisah Para Nabi
Tentang pentingnya mempelajari kisah para Nabi, Allah berfirman, “Dan Kami ceritakan kepadamu cerita para Rasul agar dengannya Kami teguhkan hatimu.” (Hud : 120)
Mari kita renungkan kisah Nabiyullah Ibrahim Alaihis Salam tatkala dilemparkan ke dalam api. Ibnu Abbas berkata: Ucapan terakhir Ibrahim ketika akan dilemparkan ke dalam api adalah, “Cukuplah Allah sebagai penolongku, Dia adalah sebaik-baik pelindung.” (Al Fath : 29)
Seandainya Anda merenungi firman Allah di atas, tidakkah Anda merasakan adanya tsabat yang meresap ke dalam jiwa Anda? Dalam kisah Musa Alaihis Salam, Allah berfirman: “Maka setelah kedua golongan itu saling melihat, berkatalah para pengikut Musa: Sesung-guhnya kita akan benar-benar tersusul. Musa menjawab: Sekali-kali tidak akan tersusul, sesungguhnya Rabbku bersama-ku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku.” (Asy Syu’ara : 61-62)
Bila Anda bayangkan bahwa kisah tersebut terjadi di hadapan Anda, tidakkah Anda merasakan tsabat di dalam hati Anda?
4.      Berdoa
Di antara sifat hamba-hamba Allah yang beriman adalah selalu memohon kepadaNya agar diberi keteguhan iman, seperti doa yang tertulis dalam firman Allah: “Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan …setelah Engkau beri petunjuk kepada kami.” (Ali Imran : 250)
Agar hati tetap teguh, maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam banyak memanjatkan doa berikut ini, “Wahai Dzat pembolak-balik hati, teguhkanlah hatiku pada agamaMu.” (HR. At Tirmidzi)
5.      Berdzikir kepada Allah
Dzikir kepada Allah adalah amalan yang paling ampuh untuk mencapai tsabat. Karena pentingnya dzikir ini, Allah memadukan antara dzikir dengan jihad sebagaimana dalam firman-Nya: “Hai orang-orang yang beriman, bila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah dan dzikirlah kepada Allah sebanyak-banyaknya.” (Al Anfal : 45)
Dalam ayat tersebut Allah menjadikan dzikrullah sebagai amalan yang baik untuk mencapai tsabat dalam jihad. Nabiyullah Yusuf Alaihis Salam pun memohon bantuan untuk mencapai tsabat dengan dzikrullah saat dirayu oleh seorang perempuan cantik yang mempunyai kedudukan tinggi. Demikianlah pengaruh dzikrullah dalam memberikan keteguhan iman kepada orang-orang beriman.
Tak seorangpun bisa menjamin dirinya akan tetap terus berada dalam keimanan sehingga meninggal dalam keadaan khusnul khatimah. Untuk itu kita perlu merawat bahkan senantiasa berusaha menguatkan keimanan kita. Makalah ini insya’allah membantu kita dalam usaha mulia itu.
6.      Menempuh Jalan Lurus
Allah berfirman: “Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia dan jangan mengikuti jalan- jalan (lain) sehingga menceraiberaikan kamu dari jalanNya.” (Al An’am: 153)
Dan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mensinyalir bahwa umatnya bakal terpecah-belah menjadi 73 golongan, semuanya masuk Neraka kecuali hanya satu golongan yang selamat (HR. Ahmad, hasan).
Dari sini kita mengetahui, tidak setiap orang yang mengaku muslim mesti berada di jalan yang benar. Rentang waktu 14 abad dari datangnya Islam cukup banyak membuat terkotak-kotaknya pemahaman keagamaan. Berdasarkan banyak keterangan ayat dan hadits , jalan yang benar dan selamat itu adalah jalan Allah dan RasulNya. Sedangkan pemahaman agama yang autentik kebenarannya adalah pemahaman berdasarkan keterangan Rasul Shallallahu Alaihi wa Sallam kepada para sahabatnya. (HR. Turmudzi, hasan).
Orang yang telah mengikuti paham Ahlus Sunnah wal Jamaah akan tegar dalam menghadapi berbagai keanekaragaman paham, sebab mereka telah yakin akan kebenaran yang diikutinya.
7.      Menjalani Tarbiyah
Tarbiyah (pendidikan) yang semestinya dilalui oleh setiap muslim cukup banyak. Paling tidak ada empat macam. Tarbiyah Imaniyah, yaitu pendidikan untuk menghidupkan hati agar memiliki rasa khauf (takut), raja’ (pengharapan) dan mahabbah (kecin-taan) kepada Allah serta untuk menghi-langkan kekeringan hati yang disebab-kan oleh jauhnya dari Al Qur’an dan Sunnah. Tarbiyah Ilmiyah, yaitu pendidikan keilmuan berdasarkan dalil yang benar dan menghindari taqlid butayang tercela.
Tarbiyah Wa’iyah, yaitu pendidi-kan untuk mempelajari siasat orang- orang jahat, langkah dan strategi musuh Islam serta fakta dari berbagai peristiwa yang terjadi berdasarkan ilmu dan pemahaman yang benar. Tarbiyah Mutadarrijah, yaitu pendidikan bertahap, yang membimbing seorang muslim setingkat demi setingkat menuju kesempurnaannya, dengan program dan perencanaan yang matang. Bukan tarbiyah yang dilakukan dengan terburu-buru dan asal jalan.
8.      Meyakini Jalan yang Ditempuh
Tak dipungkiri bahwa seorang muslim yang bertambah keyakinannya terhadap jalan yang ditempuh yaitu Ahlus Sunnah wal Jamaah maka bertambah pula tsabat (keteguhan iman) nya. Adapun di antara usaha yang dapat kita lakukan untuk mencapai keyakinan kokoh terhadap jalan hidup yang kita tempuh adalah: Pertama, kita harus yakin bahwa jalan lurus yang kita tempuh itu adalah jalan para nabi, shiddiqien, ulama, syuhada dan orang-orang shalih. Kedua, kita harus merasa sebagai orang-orang terpilih karena kebenaran yang kita pegang, sebagai-mana firman Allah: “Segala puji bagi Allah dan kesejahteraan atas hamba- hambaNya yang Ia pilih.” (QS. 27: 59).
9.      Berdakwah
Jika tidak digerakkan, jiwa seseorang tentu akan rusak. Untuk menggerakkan jiwa maka perlu dicari-kan medan yang tepat. Di antara medan pergerakan yang paling agung adalah berdakwah. Dan berdakwah merupakan tugas para rasul untuk membebaskan manusia dari adzab Allah. Maka tidak benar jika dikatakan, fulan itu tidak ada perubahan. Jiwa manusia, bila tidak disibukkan oleh ketaatan maka dapat dipastikan akan disibukkan oleh kemaksiatan. Sebab, iman itu bisa bertambah dan berkurang. Jika seorang da’i menghadapi berbagai tantangan dari ahlul bathil dalam perjalanan dakwahnya, tetapi ia tetap terus berdakwah maka Allah akan semakin menambah dan mengokohkan keimanannya.


10. Dekat dengan Ulama
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: “Di antara manusia ada orang-orang yang menjadi kunci kebaikan dan penutup kejahatan.” (HR. Ibnu Majah, no. 237, hasan)
Senantiasa bergaul dengan ulama akan semakin m…enguatkan iman seseorang. Tercatat dalam sejarah bahwa berbagai fitnah telah terjadi dan menimpa kaum muslimin, lalu Allah meneguhkan iman kaum muslimin melalui ulama. Di antaranya seperti diutarakan Ali bin Al Madini Rahima-hullah: “Di hari riddah (pemurtadan) Allah telah memuliakan din ini dengan Abu Bakar dan di hari mihnah (ujian) dengan Imam Ahmad.”
Bila mengalami kegundahan dan problem yang dahsyat Ibnul Qayyim mendatangi Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah untuk mendengarkan berbagai nasehatnya. Serta-merta kegundahannya pun hilang berganti dengan kelapangan dan keteguhan iman ( Al Wabilush Shaib, hal. 97).
11. Meyakini Pertolongan Allah
Mungkin pernah terjadi, seseorang tertimpa musibah dan meminta pertolongan Allah, tetapi pertolongan yang ditunggu-tunggu itu tidak kunjung datang, bahkan yang dialaminya hanya bencana dan ujian. Dalam keadaan seperti ini manusia banyak membutuh-kan tsabat agar tidak berputus asa. Allah berfirman: “Dan berapa banyak nabi yang berperang yang diikuti oleh sejumlah besar pengikutnya yang bertaqwa, mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, tidak lesu dan tidak pula menyerah (kepada musuh). Dan Allah menyukai orang-orang yang sabar. Tidak ada do’a mereka selain ucapan, Ya Rabb kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebihan dalam urusan kami. Tetapkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir. Karena itu Allah memberikan kepada mereka pahala di dunia dan pahala yang baik diakherat. ” (Ali Imran: 146-148)
12. Mengetahui Hakekat Kebatilan
Allah berfirman: “Janganlah sekali-kali kamu terpedaya oleh kebebasan orang-orang kafir yang bergerak dalam negeri .” (Ali Imran: 196) “Dan demikianlah Kami terang-kan ayat-ayat Al Qur’an (supaya jelas jalan orang-orang shaleh) dan supaya jelas (pula) jalan orang-orang yang berbuat jahat (musuh-musuh Islam).” (Al An’am: 55) “Dan Katakanlah, yang benar telah datang dan yang batil telah sirna, sesungguhnya yang batil itu pastilah lenyap.” (Al Isra’: 81)
Berbagai keterangan ayat di atas sungguh menentramkan hati setiap orang beriman. Mengetahui bahwa kebatilan akan sirna dan kebenaran akan menang akan mengukuhkan seseorang untuk tetap teguh berada dalam keiman-annya.

B.  Konsistensi dalam Mentaati Ajaran Agama
       Dalam menjalankan agama kita harus konsisten. Al Quran mengajarkan kepada kita untuk konsisten memegang iman dan menjalankan ajaran agama dengan baik. Karena dengan kekonsistenan beragama Allah akan memberikan balasan yang lebih baik bagi kita, baik di dunia maupun di akhirat. Firman Allah SWT dalam surat Al Ahqaf ayat 13 :
Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah", kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita
       Agama yang seharusnya dipeluk adalah adalah agama yang yang bisa memberikan kebaikan dan kenyamanan dalam hidup bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara melalui sikap dan perilaku yang toleran dan mengakui perbedaan.
       Ketika kita memeluk agama, seharusnya kita menjalankan perintahnya dan menjauhi larangannya. Kita harus konsisten mentaati semua ajaran tersebut.
       Dalam beragama juga terdapat pilar-pilar yang dapat memberikan indikator apakah seseorang telah beragama secara menyeluruh ataukah parsial saja. Pilar tersebut mengadopsi pada pilar pendidikan menurut UNESCO yang dalam ilmu agama dapat disandingkan dengan istilah ilmu, amal, dan ihsan. Pilar-pilar yang dimaksud adalah sebagai berikut :
1.      Learning to know (Belajar mengetahui)
Dalam agama seseorang harus memiliki pengetahuan yang memadai untuk dapat menjalankan ajaran agama dengan baik. Seperangkat ilmu untuk menunjang kesempurnaan dalam beragama perlu dikuasai dengan baik agar tidak keliru dan agar beragamanya juga lebih berkualitas karena didasarkan pada ilmu.
2.      Learning to do (Amal)
Agama tidak sekedar untuk diketahui akan tetapi perlu dilakukan secara konkrit atau diamalkan dalam bentuk ibadah-ibadah ritual dan sosial. Orang yang beragama hanya pada tahap pengetahuan saja  tanpa ada pengamalan maka ia tidak termasuk orang yang konsisten.
3.      Learning to be (Ihsan secara pribadi)
Agama yang telah diketahui dan diamalkan harus dapat membentuk kepribadian yang baik bagi seseorang yang telah beragama. Artinya agama yang telah dilakukan harus memberikan implikasi positif dalam membentuk sikap dan perilaku seseorang.
4.      Learning to live togethe      r (Ihsan secara sosial)
Orang yang beragama melalui level pertama, kedua, dan ketiga harus mampu mengaktualisasikan dalam kehidupan sosial yang baik, harmonis, dan memberikan manfaat bagi orang lain.

C.     Kesalehan dalam Bersikap dan Berperilaku
            Seseorang yang mentaati agama belum dapat dikatakan sempurna imannya jika belum mewujudkan kesalehan dalam dirinya.
            Kesalehan ada dua macam yaitu kesalehan individu dan sosial.
 Kesalehan individual kadang disebut juga dengan kesalehan ritual karena lebih menekankan  dan mementingkan pelaksanaan  ibadah ritual, seperti shalat, puasa, zakat, haji, zikir, dst. Disebut kesalehan individual karena hanya mementingkan ibadah yang semata-mata berhubungan dengan Tuhan dan kepentingan diri sendiri. Sementara pada saat yang sama mereka tidak memiliki kepekaan sosial, dan kurang menerapkan nilai-nilai islami dalam kehidupan bermas yarakat.  Pendek kata, kesalehan jenis ini ditentukan berdasarkan ukuran serba  formal, yang hanya hanya mementingkan hablum minallah, tidak disertai hablum minan nas.
Kesalehan individu menjadi modal pertama dan utama untuk mewujudkan kesalehan sosial.  Modal kesalehan individu yang berupa komitmen untuk menjadi pribadi yang baik, jujur, amanah, dan dermawan dapat melahirkan kesalehan sosial kepada sesama dalam kehidupan bermasyarakat.
            Kesalehan Sosial menunjuk pada perilaku orang-orang yang sangat peduli dengan nilai-nilai islami, yang bersifat sosial. Bersikap santun pada orang lain, suka menolong, sangat concern terhadap masalah-masalah ummat, memperhatikan dan menghargai hak sesama; mampu berpikir berdasarkan perspektif orang lain, mampu berempati, artinya  mampu merasakan apa yang dirasakan orang lain, dan seterusnya. Kesalehan sosial dengan demikian adalah suatu bentuk kesalehan yang tak cuma ditandai oleh rukuk dan sujud, puasa, haji melainkan juga ditandai oleh seberapa besar seseorang memiliki kepekaan sosial dan berbuat kebaikan untuk orang-orang di sekitarnya. Sehingga orang merasa nyaman, damai, dan tentram berinteraksi dan bekerjasama dan bergaul dengannya.
            Dalam Islam, sebenarnya kedua corak kesalehan itu merupakan suatu kemestian yang tak usah ditawar. Keduanya harus dimiliki seorang Muslim, baik kesalehan individual maupun kesalehan sosial. Agama mengajarkan “Udkhuluu fis silmi kaffah !” bahwa kesalehan dalam Islam mestilah secara total !”. Ya shaleh secara individual/ritual juga saleh secara sosial. Karena ibadah ritual selain bertujuan pengabdian diri pada Allah juga bertujuan membentuk kepribadian yang islami sehingga punya dampak positif terhadap kehidupan sosial, atau hubungan sesama manusia.
            Karena itu, kriteria kesalehan seseorang tidak hanya diukur dari seperti ibadah ritualnya shalat dan puasanyanya, tetapi juga dilihat dari output sosialnya/ nilai-nilai dan perilaku sosialnya: berupa kasih sayang pada sesama, sikap demokratis, menghargai hak orang lain, cinta kasih, penuh kesantunan, harmonis  dengan orang lain, memberi dan membantu sesama.
            Dalam hadis lain diceritakan, bahwa seorang sahabat pernah memuji kesalehan orang lain di depan Nabi. Nabi bertanya, “Mengapa ia kau sebut sangat saleh?" tanya Nabi. Sahabat itu menjawab, "Soalnya, tiap saya masuk masjid ini dia sudah salat dengan khusyuk dan tiap saya sudah pulang, dia masih saja khusyuk berdoa."  "Lho, lalu siapa yang memberinya makan dan minum?" tanya Nabi lagi. "Kakaknya," sahut sahabat tersebut. Lalu kata Nabi, "Kakaknya itulah yang layak disebut saleh." Sahabat itu diam.

            Bagi umat Islam dalam mewujudkan kesalehan individu dan kesalehan sosial memiliki rujukan keteladanan yakni pribadi Nabi Muhammad SAW sebagaiman firman Allah :
Sesungguhnya adalah bagi kamu pada Rasulullah itu teladan yang baik.
            Situasi politik, ekonomi, sosial, budaya, dan sebagainya yang tak menentu di negara ini mengharuskan kita pandai-pandai membangun kesadaran untuk menjadi pribadi yang baik. Dalam kehidupan politik, misalnya banyak sekali adegan saling memojokkan elit politik. Dalam kehidupan ekonomi banyak sekali oknum yang berbohong ketika melakukan transaksi. Dalam kehidupan sosial, misalnya kurang peduli terhadap orang miskin. Sedangkan dalam kehidupan budaya, misalnya sebagian masyarakat tidak mampu memfilter man budaya yang baik dan mana yang tidak.
            Kesalehan mencakup hubungan baik dengan Allah (hablum minallah), hubungan baik dengan sesama manusia (hablum minan nas), dan hubungan baik dengan alam (hablum minal alam).
            Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa orang-orang yang sungguh-sungguh dalam beragama dan orang yang pura2 dalam beragama dapat dilihat dari beberapa indikator, yaitu apakah orang itu imannya teguh ataukah rapuh, apakah orang itu konsisten mentaati ajaran agama ataukah mengabaikannya, apakah orang itu memiliki kesalehan dalam bersikap dan berperilaku ataukah tidak berakhlak.
           
                         








BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
            Berdasarkan pembahasan yang telah dibahas pada bab sebelumnya dalam makalah ini, dapat diperoleh kesimpulan yaitu:
Manusia memilki keterbatasan pengetahuan dalam banyak hal, baik mengenai sesuatu yang tampak maupun yang ghaib, dan juga keterbatasan dalam memrediksi apa yang terjadi pada dirinya dan orang lain. Oleh karena keterbatasan itulah maka manusia memerlukan agama untuk membantu dan memberikan pencerahan spiritual pada dirinya.
Adapun fungsi agama bagi manusia adalah menyediakan motivasi positif bagi pemeluknya, serta sebagai pelipur lara dan rekonsiliasi, pendorong kuat bagi terbentuknya perilaku kolektif dalam suatu kelompok,sebagai sistem kepercayaan, sebagai sistem ibadah, dan senagai sistem kemasyarakatan.
Seseorang dikatakan beragama jika orang tersebut telah memenuhi indikator-indikator berikut, yaitu memunyai keteguhan iman, memunyai konsistensi dalam menaati ajaran agama, memunyai kesalehan dalam bersikap dan berperilaku.
3.2 Saran
Sebaiknya agama itu tidak hanya diketahui dan dipahami, melainkan agama itu harus diyakini dan diamalkan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar